Makna ikhlas dalam persaksian Allah yang maha Ahad

Membayangkan ketika diri ini tak berwujud , hanya segumpal daging dari persatuan sperma yang menjijikkan dengan sel telur. Saat itu Allah menghadapkan wajah Nya dan bertanya

Alastu birobbikum

qolu bala syahidna

Bukankah aku ini Tuhanmu ? Betul engkau Tuhan kami,kami menjadi saksi.( 7:172)

Ingatkah kita akan pertemuan itu?

Ketika kita bergantung sepenuhnya kepada Dia dan tidak ada apapun dalam pandangan kita kecuali Dia dan meyakini bahwa Dia akan selalu melindungi dan memberi penghidupan.

Dan lahirlah kita ke dunia dengan segala drama dalam kehidupan yang sering membuat kita lupa akan kehadiran Nya. Ketika kita merasa dilemahkan, kehidupan seakan semakin menjepit, merasa tersingkirkan dari dunia, merasa dikucilkan dari kawan karena kita terlihat kurang ‘shopisticated’ atau terlalu merunduk sehingga tidak pernah disebut di panggung gemerlap perayaan maka keluh kesah dan kesedihan seringkali mendera.

Alkisah pada masa rasulullah, para sahabat berkomentar ketika Qotzman ditemukan telah ikut gugur dengan luka-luka yang banyak di sekujur tubuhnya. “Tidak seorang pun di antara kita yang dapat menandingi kehebatan Qotzman.”

Mendengar perkataan itu, Nabi Muhammad SAW menjawab, “Sungguh, dia itu adalah golongan penduduk neraka.”

Para sahabat menjadi heran. Bagaimana mungkin seseorang yang telah berjuang dengan begitu gagah berani di medan pertempuran justru akhirnya dimasukkan Allah SWT dalam neraka?

Rasulullah SAW lalu menjelaskan, “Semasa Qotzman dan Aktsam keluar ke medan perang bersama-sama, Qotzman telah mengalami luka parah akibat ditikam musuh. Badannya dipenuhi dengan darah. Qotzman mengambil pedangnya, kemudian mata pedang itu dihadapkan ke dadanya. Ia benamkan pedang itu ke dalam dadanya.”

Qotzman ternyata mati bukan karena dibunuh musuh, melainkan bunuh diri. Menurut Nabi SAW, warga Madinah itu bunuh diri karena tidak tahan menanggung kesakitan akibat dari luka yang dialaminya.

Bahwa semua hal yang membuat dirinya Suul Khatimah bukan karena kezhaliman Allah SWT, justru karena orang tersebut beribadah dengan tidak Ikhlash kepada-Nya. Dia beribadah tanpa menghadirkan Allâh SWT dalam hatinya, dia tidak pernah menyaksikan Allah SWT dalam setiap apa yang diperbuat nya. Sehingga ketika dia diuji dengan sebuah luka yang menyakitkan, dia tidak bisa menikmati lukanya dalam proses sakaratul mautnya karena dia tidak bisa menyaksikan Allâh SWT Rabb Semesta Alam yang Maha Cinta Kasih. Dia tidak mendapatkan Pertolongan-Nya untuk menahan rasa sakitnya, sehingga dia tergelincir menjadi putus asa.

Nabi SAW juga mengungkapkan, sebenarnya sejak awal niat yang muncul dalam hati Qotzman sudah keliru. Sebab, lanjut beliau shalallahu ‘alaihi wasallam, Qotzman sebelum berangkat telah berkata, “Demi Allah aku berperang bukan karena agama, tetapi hanya sekadar menjaga kehormatan Madinah agar tidak dihancurkan kaum Quraisy. Aku berperang hanyalah untuk membela kehormatan kaumku.”

Maka dari itu, Rasulullah SAW mengingatkan para sahabatnya agar berhati-hati dalam memberikan penilaian. Belum tentu perbuatan yang tampak di mata orang-orang seperti amalan mulia benar-benar tulus. Bisa jadi justru sebenarnya tidak baik.

“Sesungguhnya seseorang tampak benar-benar beramal dengan amalan penghuni surga menurut pandangan manusia, padahal ia termasuk penghuni neraka. Dan sungguh seseorang tampak beramal dengan amalan penghuni neraka menurut manusia, padahal dia termasuk penghuni surga,” sabda beliau.

Lalu apa yang harus kita lakukan ?

Hadirkan kembali rasa ketika kita yang suatu masa masih berupa janin yang bergantung sepenuhnya pada rahim sang bunda. Rasakanlah kenikmatan bergantung sepenuhnya kepada Nya, tanpa pretensi, tanpa banyak berfikir. Berusaha Ikhlas bahwa yang terbaik yang harus dipersiapkan adalah pertemuan dengan Nya. Selalu tersenyum karena akan selalu teringatkan tempat bergantung kita tetap disana. Dia yang berada di ketinggian namun selalu dekat dan hadir, dan kita hanya boneka bagi segala gerak kuasa Nya. Dan berbaik sangka bahwa tidak ada sesuatu yang buruk tanpa seijin Nya.

Tumbuhkan rasa ponyo kebergantungan pada Allah. Kita tidak punya apa apa dan tak akan tumbuh dan berkembang apabila melepaskan diri dari Allah. Hadapkan hati hanya pada Allah, bahwa kita mahluk yang tak berdaya.

Yang terpenting, jangan pernah keluhkan segala keresahan pada manusia.

Baginda Nabi Muhammad SAW ketika dicerca, dihina dan dilempari kotoran hanya tersenyum karena baginya hanya satu dalam pandangannya dan persaksiannya yaitu Dia yang ahad. Tidak pernah terlontar keluhan dari bibirnya. Terlihat buruk bagi yang memandang perlakukan pada kekasih Allah tersebut, tetapi sesungguhnya ada hakikat dan beribu misteri dari Dia yang selalu mencinta mahluk Nya.

Itulah sebenar benarnya keikhlasan dalam memahami Allah yang Ahad, hanya Allah semata dalam pandangan kita.

Qul huwa Allahu Ahad

 

Wallahu’alam bis shawab